Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra.

Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. - Hallo sahabat sahihbukhari17, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra., kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra.
link : Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra.

Baca juga


Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra.


Beliau ( Lahir: 61 H. - Wafat: 101 H. )

Inilah biografi kelima dari serial penuh berkah ini, para tokoh Salaf, biografi khalifah yang zuhud, imam, ahli ibadah, Umar bin Abdul Aziz. Seandainya kita bersikap obyektif, niscaya dia menjadi pembuka biografi ini, karena dia lebih utama dalam pujian daripada orang-orang yang sebelumnya, dan karena memiliki kelebihan dalam keutamaan dan kemuliaan. Dialah pembaharu pertama bagi pemuda Islam di penghujung seratus tahun pertama, orang yang paling harum perjalanan hidupnya, dan paling harum batinnya. Dunia datang kepadanya dengan pasukan berkendara dan berjalan kaki. Dia memenuhi bumi dengan keadilan, setelah (sebelumnya) dunia dipenuhi dengan kezhaliman. Dia merubah permukaan bumi dalam waktu dua tahun lebih lima bulan. Beliau menjalankan misinya dan menghadap Rabbnya. Abu Nu'aim mengatakan dalam biografinya, Dia adalah orang nomor satu dari umatnya dalam hal keutamaan, dan paling unggul dari kaum kerabatnya dalam hal keadilan. Dia menghimpun zuhud dan kesucian diri, wara' dan sifat merasa cukup. Dia disibukkan oleh kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, dan menegakkan keadilan telah melalaikannya dari kezhalimannya. Dia adalah khalifah yang menjaga keamanan dan perdamaian untuk rakyatnya, serta sebagai hujjah dan bukti atas siapa saja yang me-nyelisihinya. Dia adalah seorang yang cakap lagi berilmu, mampu memberikan pemahaman lagi bijaksana.

Ketika kita diberi kehormatan untuk menuliskan keutamaan-keutamaannya dan merangkai jejak-jejaknya dalam syair, kita ber-harap kepada Allah Yang Mahabesar kebaikan yang banyak. Ahmad bin Hanbal mengatakan, Jika engkau melihat seseorang mencintai Umar bin Abdul Aziz dan menyebut kebaikan-kebaikannya serta menyebarkannya, maka ketahuilah bahwa ada kebaikan di balik itu, insya Allah. Siapakah yang membaca sirah Imam ini lalu hatinya tidak dipenuhi dengan kecintaan kepadanya, padahal dia telah menghimpun berbagai keutamaan dan jiwanya jauh dari kekurangan dan kehinaan?!

Tampak padanya tanda-tanda kemuliaan sejak kecil. Dia mengkhatamkan al-Qur`an, dan tidak sibuk dengan kemewahan dan kekayaan sebagaimana kebiasaan para pemimpin. Tetapi dia mencari kemuliaan hakiki dan kehormatan yang abadi. Dia pergi ke Madinah RasulNya, duduk di majelis para ahli fikih Madinah, dan mengambil ilmu, petunjuk dan sifat mereka. Dia tidak pernah mengincar sebagai khalifah satu hari pun, dia bukan keturunan khalifah, dia keturunan Abdul Aziz bin Marwan, sementara tampuk kekhalifahan ada pada keturunan Abdul Malik bin Marwan. Tetapi takdir yang luhur memilihnya untuk menjadi khalifah, meskipun usianya masih muda dan masa kepemimpinannya sebentar, di mana kekhalifahannya serupa dengan kekhalifahan ash-Shiddiq Abu Bakar: Mengembalikan hak-hak yang dizhalimi, mengangkat ahli kebajikan dan keshalihan sebagai pejabat, dan memecat ahli kezhaliman dan kerusakan. Sehingga pengangkatan seseorang sebagai pejabat yang dilakukannya (dijadikan) sebagai ta'dil (penilaian adil) di kalangan para imam al-Jarh wa at-Ta'dil. Mereka mengata-kan, Dia diangkat oleh Umar bin Abdul Aziz sebagai pejabat. Lewat perantaranya, Allah memuliakan agama ini, meninggikan mercusuar Sunnah, dan memadamkam api bid'ah, sehingga ahli bid'ah tertekan lagi terhina, dan mereka tidak berani berterus terang dengan bid'ah mereka. Dia memerintahkan agar menulis hadits dan menghimpunnya, sehingga kebaikan menjadi banyak, kesha-lihan merata, dan berbagai urusan hamba tertata.

Dari Awanah bin al-Hakam, dia mengatakan, Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, para penyair datang kepadanya dan berdiri di depan pintu istananya selama beberapa hari tanpa diizinkan masuk. Ketika mereka dalam keadaan demikian, pada suatu hari, dan mereka telah berniat untuk pergi, tiba-tiba Raja` bin Haiwah –salah seorang pengkhutbah penduduk Syam– lewat di hadapan mereka. Tatkala Jarir melihatnya masuk menemui Umar bin Abdul Aziz, maka dia bersenandung, Wahai laki-laki yang terulur sorbannya Inilah saatmu, maka mintakan izin untuk kami pada Umar Ia pun masuk dan tidak menyebutkan urusan mereka sedikit pun. Kemudian Adi bin Artha`ah lewat di hadapan mereka, maka Jarir mengatakan,Wahai kafilah yang menggiring kendaraannya Inilah zamanmu, sementara zamanku telah berlalu Sampaikan pada khalifah kami jika engkau bertemu dengannya Aku berada di depan pintu seperti dibelenggu pada tanduk Jangan lupa keperluanku, semoga engkau mendapat ampunan Sungguh aku telah lama di sini meninggalkan keluarga dan tanah airku Adi pun masuk menemui Umar, lalu dia mengatakan, Wahai Amirul Mukminin, para penyair ada di depan istanamu. Panah mereka itu beracun, dan kata-kata mereka itu menembus. Umar mengatakan, Kasihan engkau, wahai Adi! Apa problemku dengan para penyair?! Dia mengatakan, Semoga Allah memuliakan Amirul Mukminin. Sesungguhnya Rasulullah dipuji, lalu beliau memberi, dan pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu. Umar bertanya, Bagaimana (itu bisa terjadi)? Dia me-ngatakan, Al-Abbas bin Mirdas as-Sulami memujinya, maka beliau memberikan pakaian kepadanya, lalu beliau berhenti bicara karenanya. Kemudian Umar mengizinkan Jarir masuk menemuinya. Dia pun masuk seraya berkata, Sesungguhnya yang mengutus Nabi Muhammad Telah memberikan khilafah kepada Imam yang adil Keadilan dan kewibawaannya memenuhi khilafah Hingga meluruskan kecenderungan orang yang menyimpang Sesungguhnya aku benar-benar berharap padamu kebaikan yang disegerakan Dan jiwa itu dikodratkan menyukai suatu yang disegerakan Umar mengatakan, Wahai Jarir, aku tidak melihatmu memi-liki hak di sini. Dia mengatakan, Ya, aku mempunyai hak, wahai Amirul Mukminin, aku adalah ibnu sabil yang terlunta-lunta. Umar pun memberikan kepadanya dari hartanya sebanyak seratus dirham. Kemudian dia keluar, maka para penyair berkata, Apa yang ada di belakangmu? Dia mengatakan, Sesuatu yang menya-kitkan kalian. Aku keluar dari sisi Amirul Mukminin, sedang dia memberi kaum fakir dan menghalangi para penyair. Namun, aku ridha kepadanya. Kemudian dia berucap, Aku melihat jampi setan tidak mempan terhadapnya Padahal sungguh setanku dari jin telah menjampinya Kami memohon kepada Allah agar memberikan Umar yang lain kepada umat Islam, yang akan mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat. Dan Allah-lah yang memberi taufik kepada ketaatan, dan yang menuntun kepada derajat yang tertinggi.




Sumber : Biografi 60 Ulama Ahlussunnah



penulis Syaikh Ahmad Farid



Demikianlah Artikel Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra.

Sekianlah artikel Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. dengan alamat link https://sahihbukhari17.blogspot.com/2017/05/tokoh-islam-khalifah-umar-bin-abdul.html

0 Response to "Tokoh Islam : Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra."

Post a Comment