Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah - Hallo sahabat sahihbukhari17, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah
link : Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Baca juga


Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah


Beliau ( Lahir: 691 H. - Wafat: 751 H. )

1. NAMA DAN KELAHIRAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
Namanya:
Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa'd bin Hariz bin Makki, Zainuddin az-Zura'i,
Kelahirannya:
Dr. Bakar Abu Zaid mengatakan, Kitab-kitab biografi ber-sepakat bahwa sejarah kelahirannya pada 691 H. Muridnya, ash-Shafadi menyebutkan kepastian hari dan bulannya, dengan men-jelaskan bahwa kelahirannya pada tanggal 7, bulan Shafar dari tahun tersebut. Pendapatnya ini diikuti oleh Ibnu Taghri Bardi, ad-Dawuri, dan as-Suyuthi. Aku belum pernah melihat ada orang yang  menegaskan tentang tempat kelahirannya, apakah di Zura' ataukah di Damaskus, selain al-Maraghi dalam Thabaqat al-Ushuliy-yin. Dia mengatakan bahwa kelahirannya di Damaskus. Sementara mereka menyatakan mengenai biografinya dan biografi ayahnya, 'Az-Zura'i al-Ashl (asalnya orang Zura'), kemudian ad-Dimasyqi.' Seperti diketahui bahwa istilah mereka dengan pengungkapan ini terkadang dimaksudkan untuk menunjukkan tempat kelahiran kemudian tempat berpindah bagi orang yang dikemukakan bio-grafinya. Bisa juga yang mereka maksudkan bahwa orang tuanya atau kakek-kakeknya, misalnya, dari negeri ini, kemudian berpin-dah ke negeri lainnya. Wallahu a'lam.


2. PUJIAN ULAMA KEPADA IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
Ibnu Rajab al-Hanbali 5 mengatakan, Dia bertafaqquh dalam madzhab, menguasai dan berfatwa, konsisten menyertai Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah, dan menguasai berbagai disiplin ke-ilmuan Islam. Dia memiliki pengetahuan tentang tafsir yang tidak tertan-dingi, ushuluddin, dan ilmu ini berpuncak kepadanya, hadits berikut maknanya, fikihnya, dan detil-detil istinbath darinya yang tidak bisa disamai oleh orang lain dalam hal tersebut, fikih dan ushulnya, bahasa Arab, dan dia memiliki penguasaan yang luas terhadapnya, ilmu Kalam, nahwu dan selainnya. Dia mengetahui ilmu Suluk (perilaku), ilmu kalam ahli Ta-sawwuf, isyarat, dan detil-detil mereka. Dia memiliki penguasaan yang luas terhadap ilmu-ilmu ini. Ibnu Katsir mengatakan tentangnya, Dia mendengarkan hadits, sibuk dengan ilmu, dan menguasai berbagai macam ilmu, terutama ilmu tafsir, hadits, dan dua asal. Ketika Syaikhul Islam kembali dari negeri Mesir pada 712 H., dia menyertainya hingga Syaikh wafat. Dia mengambil ilmu yang melimpah darinya, di samping kesibukan yang telah dilakukannya sebelumnya. Dia terus mendapatkan tambahan di pintunya dalam berbagai disiplin ilmu, di samping banyak melakukan pencarian di malam dan siang hari, serta banyak berdoa. Ibnu Nashir ad-Dimasyqi mengatakan, Dia memiliki berba-gai macam disiplin ilmu, terutama tafsir dan ushul berupa manthuq (tekstual) dan mafhum (kontekstual).

Adz-Dzahabi mengatakan, Dia menaruh perhatian terhadap hadits, matan dan rijalnya. Dia menyibukkan diri dengan fikih, dan menerangkannya dengan bagus. Juga dalam bidang Nahwu, dan mendalaminya, serta memahami dua ushul (fikih dan nahwu). Asy-Syaukani mengatakan, Dia menguasai berbagai macam ilmu, mengungguli orang-orang sejawatnya, masyhur di berbagai penjuru, dan memiliki pengetahuan yang luas tentang pendapat-pendapat salaf. Al-Qadhi Burhanuddin az-Zura'i mengatakan, Tidak ada di bawah kolong langit ini orang yang lebih luas ilmunya daripada-nya. Dia mengajar di ash-Shadariyyah, dan memimpin di al-Jau-ziyah dalam waktu yang lama, serta menulis dengan tangannya sesuatu yang tak terhitung banyaknya. Al-Hafizh Ibnu Nashiruddin asy-Syafi'i mengatakan, Asy-Syaikh al-Allamah Syamsuddin, salah satu ahli tahqiq, tokoh penga-rang, ahli tafsir yang jarang ditemui, memiliki karya-karya yang bagus berkenaan dengan ilmu-ilmu syariat dan hakikat.

Al-Hafizh as-Suyuthi mengatakan, Dia menjadi salah seorang imam besar dalam bidang tafsir, hadits, furu', dua pokok, dan bahasa Arab. Al-Qadhi Abdurrahman at-Tafahni al-Hanafi mengatakan, (Beliau adalah) murid Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang karya-karyanya tersebar di berbagai penjuru. Dia mengatakan juga, Seandainya dia (Ibnu Taimiyah) tidak memiliki peninggalan kecuali ilmu yang melekat pada muridnya, Ibnu al-Qayyim, niscaya itu sudah cukup.

Mulla Ali al-Qari mengatakan mengenainya dan mengenai syaikhnya, Siapa saja yang menelaah Syarah Manazil as-Sa`irin, maka tampak jelas baginya bahwa keduanya termasuk di antara tokoh Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan di antara wali umat ini.

3. IBADAH DAN AKHLAK IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, Dia memiliki ibadah dan tahajjud, shalat panjang hingga mencapai klimaksnya, beribadah, berdzikir, lahap dengan cinta, inabah (taubat), istighfar, butuh kepada Allah, tunduk kepadaNya, dan bersimpuh di hadapanNya di pintu ubudiyahNya. Aku tidak pernah menyaksikan orang seper-tinya dalam hal itu. Aku juga tidak pernah melihat ada orang yang lebih luas ilmunya daripadanya, dan lebih tahu tentang makna al-Qur`an dan Sunnah serta hakikat iman daripadanya. Namun dia bukanlah orang yang ma'shum. Tetapi aku tidak pernah melihat orang sepertinya berkenaan dengan semua itu. Dia mendapatkan ujian, mendapatkan gangguan berkali-kali, dan dipenjara bersama Syaikh Taqiyyuddin pada terakhir kalinya di penjara Damaskus dalam keadaan terpisah darinya dan tidak dilepaskan kecuali sete-lah kematian Syaikh. Selama masa dipenjarakan, dia menyibukkan diri membaca al-Qur`an dengan tadabur dan tafakur. Dari situ, kebaikan yang banyak terbuka di hadapannya, mendapatkan aspek cita rasa yang sangat besar dan akibat yang benar. Disebabkan hal tersebut, dia menguasai tentang ilmu-ilmu ahli ma'rifat dan me-nyeruak ke dalam relung mereka. Karya-karyanya sarat dengan hal itu. Dia berhaji beberapa kali dan bermukim sementara waktu di Makkah. Penduduk mengutarakan tentangnya, karena kegigihan beribadah dan banyak melakukan thawaf, sebagai suatu perkara yang menakjubkan. Ibnu Katsir mengatakan, Aku tidak pernah mengetahui di dunia ini, di zaman kami, orang yang lebih banyak beribadah dari-padanya. Dia memiliki metode dalam shalat yang dia panjangkan sekali. Dia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Terkadang banyak sahabatnya yang mencelanya, tapi dia tidak kembali dan tidak menarik diri darinya, semoga Allah merahmatinya.

Ibnu Hajar 5 mengatakan, Apabila dia telah Shalat Shubuh, maka dia duduk di tempatnya untuk berdzikir kepada Allah hingga siang, dan dia mengatakan, 'Inilah waktu makanku. Seandainya aku tidak makan, niscaya kekuatanku menjadi lemah.' Dia pernah mengatakan, 'Dengan kesabaran dan kefakiranlah, kepemimpinan dalam agama akan diraih.' Dia juga mengatakan, 'Seorang peniti jalan itu harus memiliki semangat yang bisa menjalankan dan me-naikkannya, dan ilmu yang bisa menerangi dan menuntunnya'.

Ibnu Katsir 5 mengatakan, Dia adalah orang yang bagus bacaan Qur`annya dan akhlaknya, banyak mencintai orang lain, tidak dengki kepada siapa pun, tidak menyakitinya, tidak memper-budaknya, dan tidak dendam kepada siapa pun. Ringkasnya, dia sangat sedikit keburukannya dalam semua urusan dan ihwalnya, sedangkan yang lebih mendominasinya adalah kebajikan dan akhlak yang utama.


4. PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN OLEH IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Dr. Bakar bin Abdullah Abu Zaid mengatakan, Siapa yang memperhatikan biografi Ibnu al-Qayyim 5, maka dia mendapati-nya memiliki kecintaan yang jujur dalam menuntut ilmu, kesung-guhan yang besar dalam mengkaji dan meneliti, kebebasan dalam mengambil ilmu dari para syaikh, baik dari Hanabilah maupun selainnya, dan melebur di jalan ilmu. Hal itu telah bercampur de-ngan daging dan darahnya sejak usia dini, serta bersemangat dalam mencari ilmu sejak masih kecil, pastinya pada saat usia tujuh tahun. Hal itu tampak lewat perbandingan antara tarikh kelahirannya 691 H. dengan tarikh kematian sejumlah syaikhnya yang dari mereka dia menimba ilmu.

Di antara syaikhnya, ialah asy-Syihab al-Abir (wafat 697 H.). Dengan demikian, dia mulai mendengar pada saat berusia tujuh tahun. Sungguh Ibnu al-Qayyim memuji syaikhnya, asy-Syihab, dan dia menyebutkan sekelumit dari ta'birnya terhadap mimpi dalam kitabnya, Zad al-Ma'ad, kemudian mengatakan, Aku mendengar beberapa juz di hadapannya, dan aku belum diperkenankan mem-baca ilmu ini di hadapannya karena masih kecil, sementara kema-tian menjemputnya.' Di antara syaikhnya, ialah Abu al-Fath al-Ba'labaki (wafat pada 709 H.), dan dia telah membaca sejumlah kitab di hadapan-nya tentang nahwu, di antaranya Alfiyyah Ibnu Malik. Alfiyyah dan sejenisnya seperti al-Muthawwalat (teks-teks panjang lainnya) ber-kenaan dengan bahasa Arab, tidak dipelajari kecuali oleh orang yang mampu, menguasai, dan mencapai puncak dalam pencarian.
Artinya, dia telah menguasai bahasa Arab saat masih belum berusia 19 tahun. Demikian pula tentang jumlah syaikh dan gurunya, sebagai-mana yang akan disebutkan tentang guru-gurunya insya Allah. Se-sungguhnya banyaknya penyimakan dan gurunya, melimpahnya ilmu yang dikuasainya, dan banyaknya keahliannya di dalamnya, –padahal masa tinggalnya di dunia ini (sekedar) hampir 60 tahun– menunjukkan kepada kita juga atas kebenaran hasil (kesimpulan) ini.


Sumber darulhaq.com


Demikianlah Artikel Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Sekianlah artikel Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dengan alamat link https://sahihbukhari17.blogspot.com/2017/05/tokoh-islam-ibnul-qoyyim-al-jauziyah.html

0 Response to "Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah"

Post a Comment